Rabu, 19 Oktober 2011

Hati-hati Terpeleset di Rumah Sendiri



   Suatu ketika, saya terbangun menemukan diri saya sedang tergeletak di lantai dapur. Saya berpikir keras. Sudah berapa lama saya pingsan? Kepala terasa pusing luar biasa dan seolah seluruh rumah berputar-putar. Nyeri yang berdenyut-denyut terasa di kepala sebelah kiri belakang. Perlahan saya mencoba mengumpulkan kesadaran. Apa yang terjadi? Oh iya, tadi saya terpeleset. Terpeleset apa? Kemudian saya melihat genangan darah di dekat saya. Ya ampun, anak-anak! Anak-anak dimana? Hei…bukankah itu Aa Dilshad (anak sulung saya)? Samar-samar saya mengenali sosok yang berdiri dihadapan saya. Dan…sepertinya dia menangis? Sudah berapa lama ia melihat ibunya tergeletak di lantai?
   Perlahan saya raih tubuh kecilnya, dan berusaha keras untuk bicara, “ Aa… ibu ja..tuh. Aa bisa…ke rumah..Mama Rafi? Bilang sama Mama Rafi….kalau ibu jatuh. Aa bisa kan…putar kunci…buka pintu? Tolong ya A….” Sepertinya Aa mengangguk, lalu pergi. Kelihatannya bocah 4 tahun itu berhasil memutar kunci dan pergi meminta tolong pada tetangga sebelah rumah. Lalu saya menyeret badan saya sekuat tenaga untuk mencapai ruang tengah. Sulit sekali untuk bangun,. Semua terasa berputar. Pusing dan mual hebat tiba2 melanda. Saya muntah2. Sambil merambat berpegangan di tembok, saya mencoba berjalan. Saya ingin melihat bayi saya (anak kedua), Rasyad, di kamar. Tapi saya tidak sempat dan sudah tak sadarkan diri lagi….

   Musibah memang bisa terjadi kapan saja. Kecelakaan juga bahkan bisa terjadi di rumah sendiri. Kecelakaan yang saya alami di rumah adalah akibat terpeleset lantai keramik. Penyebabnya karena ketidaktahuan dan kurang hati-hati, ditambah lagi kondisi badan yang sedang tidak fit.
   Pada saat kejadian, saya tengah menyiapkan air mandi untuk si kecil Rasyad yang terbangun jam 4 sore. Setelah selesai, saya berniat menjemputnya di kamar dan memandikannya. Kebetulan kami baru selesai membangun kamar di bagian belakang rumah. Namanya bangunan baru, saat hujan turun rupanya ada bagian yang bocor. Ini yang tidak saya ketahui, itu sebab pertama. Kedua, saat itu saya sedang batuk dan minum obat dokter yang menyebabkan kantuk. Sayangnya, saya tidak bisa beristirahat karena repot mengurus 2 anak di rumah sendirian. Letih dan mengantuk, sudah pasti. Ketiga, kebiasaan saya yang selalu jalan terburu-buru. Jadilah saya yang sedang tidak fit dan berjalan terburu-buru ini kemudian tidak melihat ada genangan air bocoran atap….kemudian jatuh terpeleset dengan sangat keras!
   Setelah terpeleset, saya sadar dan pingsan beberapa kali. Semua yang saya alami saat itu mulai dari jatuh, mendapat pertolongan, sampai tiba di rumah sakit…saya berhasil mengingatnya bagaikan puzzle, terputus-putus. Saya lupa-lupa ingat. Bersyukur, saya tidak sampai hilang ingatan…
   Tersadar kembali, saya sudah tergeletak di atas bantal di karpet ruang tamu. Oh iya, tadi kan jalan sendiri dari dapur. Dan hei? Itu Dd Rasyad (saat itu dipanggil Dd)? Aahh syukurlah ia sedang digendong salah satu tetangga yang datang. Tetangga saya kebetulan kembar, Mama Rafi dan Mama Tiara. Yang bersebelahan persis dengan rumah kami adalah Mama Rafi. Mereka berdua sama2 memiliki anak berumur 2 tahun. Samar-samar, saya lihat mereka tengah memandangi saya dengan cemas. Saya lupa apa yang mereka katakan. Seingat saya, saya lalu meminta mereka menelpon ibu mertua saya pakai telepon rumah. Lalu saya minta diambilkan handphone saya untuk menelpon suami. Kemudian saya pingsan lagi…
   Beruntung kami tinggal satu kota dengan kakek dan neneknya anak2. Biasanya kami tinggal merantau di daerah. Karena tinggal di kampung sendiri, Eyang (ibu saya) ikut tinggal bersama kami. Namun saat kecelakaan, Eyang sedang tidak ada di rumah, beliau sedang menginap di rumah kakak saya. Kami tidak punya asisten rumah tangga. Ada asisten tapi hanya membantu sampai siang saja (pulang hari).
  “Sudah telepon nenek? Bapanya Dilshad sudah ditelpon?” tanya saya pada kedua ibu kembar. “Sudah Mama Dilshad….” jawab mereka. Kemudian samar-samar saya mendengar salah satu dari mereka berbisik, “Kok Mama Dilshad ngomongnya itu lagi itu lagi…..jadi takut…”  Ternyata, setiap sadar dari pingsan, saya selalu menanyakan hal yang sama….
  “Halo Pak….pak, aku jatuh….kamu ada dimana?” saya menelpon suami. “Iya, kamu tadi udah nelpon, ini lagi di jalan, mau pulang, macet…” Wah, rupanya saya juga sudah menelpon suami berulang kali. Saya betul-betul tidak ingat….
   Kantor suami saya bertempat di Jakarta. Kami memutuskan untuk tidak mengontrak rumah di Jakarta dan memilih tinggal di rumah sendiri, di Bogor. Resikonya adalah jarak tempuh 2 jam setiap hari harus dilakoni oleh Bapa untuk pergi ke kantor.
  Jelang maghrib, Bapa akhirnya sampai di rumah. Saya digendong masuk ke mobil. Tubuh saya terayun, saya merasa semakin pusing. Mual. Dan muntah lagi untuk yang kedua kalinya. Saya dibawa ke RS Azra Bogor. Sampai di rumah sakit, memasuki UGD saya kembali dibopong, merasa digoyamg-goyang, saya muntah untuk yang ketiga kalinya…

  Kemudian saya dipasangi oksigen. Dokter dan para suster terlihat sibuk. Saya ingat mereka menggunting sedikit rambut saya untuk menjahit luka. Tetapi tidak jadi dijahit, rupanya robeknya tidak terlalu lebar. Tiba2 saya mendengar ada keributan di luar UGD, makin lama semakin jelas. Rupanya Nenek (ibu mertua saya) datang. Nenek langsung menangis histeris begitu melihat saya. Segera para suster mengusir beliau keluar. Sayup-sayup saya mendengar suaranya tangisannya yang semakin menjauh. Belakangan, Nenek bercerita kalau beliau panik melihat saya yang lemah di UGD dengan selang oksigen dan sedang dilakukan tindakan medis. Saat itu Nenek sempat berpikiran buruk andai saya meninggal.....
   Saya diajurkan untuk melakukan pemeriksaan CT scan untuk mendiagnosis dampak benturan terhadap kepala saya. Saat saya didorong menuju ruang periksa, saya melihat kakak ipar dan sepupu2 suami yang datang menjenguk. Saya sempat menyalami dan diajak bicara. Tapi saya lupa apa yang kita bicarakan.
Alat CT Scan
    Udara dingin penyejuk udara dari ruang CT Scan tiba-tiba menyergap. Saya menggigil kedinginan. Karena yang diperlukan adalah foto pada bagian kepala, maka di alat tersebut hanya kepala saya saja yang masuk untuk disinar.
  Selesai dari ruang periksa, saya langsung dibawa ke kamar perawatan. Saat memindahkan tubuh saya dari tempat tidur dorong ke tempat tidur kamar, dibantu oleh para saudara, saya kembali merasa mual dan muntah untuk yang keempat kalinya, dan -syukurlah- yang terakhir kalinya.
     Hari-hari selanjutnya di rumah sakit adalah hari-hari tersiksa bagi saya. Pusing luar biasa mulai berkurang sedikit demi sedikit. Nyeri di balik perban di kepala terasa berdenyut-denyut. Saya sulit bergerak. Kalau bergerak harus perlahan-lahan, kalau tidak akan pusing hebat dan mual (bisa-bisa muntah lagi). 
   Saya dirawat di rumah sakit selama 3 hari 2 malam. Ditemani Bapa tercinta yang mengambil cuti kantor dadakan untuk menunggui saya di rumah sakit. Beban penderitaan berikutnya adalah masalah dada saya yang membengkak karena tidak menyusui Dd Rasyad! Saat itu saya buta soal memerah ASI karena selalu menyusui langsung. Jadi, selama di rumah sakit, ASI terpaksa dipompa dan dibuang. Kecuali saat jam besuk dan Dd Rasyad dibawakan untuk saya susui langsung. Rasyad selain menyusu ASI juga minum susu formula.
   Lantas, bagaimana ceritanya anak-anak saat kejadian dan selama ditinggal oleh Ibu dan Bapanya ke rumah sakit? Menurut cerita ibu kembar, saat mereka datang ke rumah setelah Aa Dilshad memberitahu kalau ibunya jatuh, mereka menemukan saya yang tergeletak pingsan di ruang tengah dan Dd Rasyad sedang merangkak kesana-kemari. Oh anakku....   
   Setelah saya dibawa pergi ke rumah sakit, kedua anak saya pun diurus oleh tetangga-tetangga saya yang baik hati. Aa Dilshad ikut tetangga depan, keluarga Bapak Udin yang memiliki 3 anak (2 anak perempuan, Wafa kelas 1 dan Khusnul yang masih TK, serta1 anak laki2 umur 3 tahun, Huda) yang biasa bermain bersama. Kemudian Aa ikut mandi dan makan bersama keluarga Pak Udin. Sedangkan Dd Rasyad ikut tetangga sebelah rumah, Mama Rafi, ibu dari Rafi yang berumur 3 tahun. Dd Rasyad dimandikan dan dipakaikan baju Rafi, sempat disuapi juga. Wah kasihan yaa Mama Rafi pasti kerepotan. 
   Cukup lama juga tetangga mengasuh anak-anak saya. Sampai kemudian Nenek dan Kakek datang. Sebelumnya mereka singgah ke rumah sakit sebentar untuk melihat keadaan saya. Lalu Bapa meminta mereka ke rumah, menjemput anak-anak.  Segera anak-anak dibawa ke rumah Nenek, pada jam 9 malam, dengan perjalanan naik motor selama 1 jam.....
   Sebenarnya, Dd Rasyad itu bayi yang sulit berinteraksi dengan orang lain. Dia hanya mau dengan ibunya saja. Karena jarang bertemu Bapanya (gara-gara pergi pagi pulang malam terus), dengan Bapanya juga kurang dekat.Bahkan digendong Neneknya juga tidak mau. Tapi kalau digendong oleh Eyangnya, dia mau. Mungkin karena bertemu setiap hari dengan Eyangnya di rumah, sedangkan bertemu Nenek hanya seminggu sekali.
  Tidak heran, selama diasuh oleh Nenek, Dd Rasyad rewel sekali. Terutama saat mau tidur karena bisa menyusui sambil tidur. Wah nyaris Nenek tidak bisa tidur semalaman selama 2 malam berturut-turut. Beruntung, di rumah Nenek banyak saudara yang membantu mengasuh Dd Rasyad dan Aa Dilshad. Jadi saat Nenek istirahat tidur, anak-anak ada yang mengasuh.
   Saat di rumah sakit, saya berusaha keras untuk cepat sembuh. Saya ingin cepat pulang menemui anak-anak. Terutama saya ingin segera menyusui Dd Rasyad. Secara bertahap, perlahan-lahan saya mulai menggerakkan tubuh saya. Ya ampun.....pusingnya! Akhirnya lama-lama saya bisa berjalan sendiri ke kamar mandi, sambil membawa infus, sambil dituntun oleh Bapa. Dokter yang melihat perkembangan saya tersebut akhirnya membolehkan saya pulang. Hasil CT scan juga menyatakan saya hanya gegar otak ringan dan tidak berdampak buruk terhadap kepala saya beserta isinya. Alhamdulillah...
Contoh hasil foto CT Scan (yang punya saya sudah hilang)
    Pelajaran berharga dari kejadian ini adalah: kecelakaan bisa terjadi di mana saja, bahkan di rumah sendiri. Selalu berhati-hati dalam melangkah. Bahkan sejak saat itu kami menjadi sedikit paranoid kalau melihat ada sedikit tumpahan air di lantai, langsung buru-buru dilap! Jangan sampai ada yang celaka lagi karena terpeleset
   Hal lain yang tidak kalah penting: bila sedang sakit dan minum obat dokter, sebaiknya dipaksakan beristirahat, tinggalkan semua pekerjaan, lalu pergi tidur bersama si kecil (karena tidak ada orang lain yang mengasuh). Saya ingat kenapa saya tidak beristirahat di hari saya kecelakaan. Pada hari itu kami akan kedatangan tamu, Wawan, sepupu suami, yang akan menginap di rumah karena ada keperluan ke Jakarta (mau menumpang ikut mobil Bapa ke kantor). Wawan akan datang pada sore harinya. Saya merasa malu kalau tidak menyuguhkan apa-apa. Kerena itu, saat Dd Rasyad tidur di pagi hari, saya menahan diri untuk tidak tidur dan memilih berkutat di dapur. Saya memasak sayur lodeh dan oseng oncom dengan daging cincang. Dan semenjak kecelakaan, saya jadi trauma dengan kedua masakan tersebut....sampai sekarang...
   Selama dirawat di rumah sakit saya jadi banyak menghabiskan waktu berdua dengan suami. Bapa setia menjaga saya, yang nyaris tidak bisa bergerak pada hari pertama dirawat Kami banyak mengobrol. Terutama membahas kejadian yang baru saja saya alami. Lewat obrolan itulah, akhirnya kepingan-kepingan puzzle kejadian saat kecelakaan bisa terurut dengan sesuai. Makanya saya bisa cerita di sini sekarang.... kalau tidak, saya pasti ngaco banget ceritanya... hehe... maklum, gegar otak ringan...
   Benturan di kepala memang membahayakan. Hanya robek sedikit dan mengalami sedikit masalah dengan ingatan saja rasanya saya sudah menderita. Pusing di kepala tidak bisa menghilang begitu saja. Ternyata saya butuh waktu 3 bulan untuk benar-benar sembuh dari pusing tersebut. Sedangkan untuk luka robek di kepala, sampai 6 bulan berlalu sakitnya masih terasa bila tersentuh. Tidak terbayang orang-orang dengan luka trauma berat.... ya Allah...a 
   Sempat merasakan ajal yang begitu dekat. Rasanya saya hampir mati tempo hari. Bagaimana bila saya justru betul-betul dipanggil Tuhan? Bagaimana dengan Aa Dilshad dan Dd Rasyad yang masih kecil dan sangat membutuhkan ibunya? Bagaimana dengan Bapa? Saya pun membicarakan ini dengan Bapa. "Pak, kalau aku mati duluan. Kamu nikah lagi aja ya..." kata saya serius. Lalu apa jawaban suami saya tercinta ini? Dengan tersenyum Bapa menjawab, "Kalau mati ya dikubur..."




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar